Skip to content

Perzinaan Dalam Ber-Valentine – Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami

13 Februari 2011

Oleh: Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami -hafizhahullah-

Membaca fenomena ber-valentine yang dilakukan oleh sebagian besar umat ini, yang penuh dengan dosa dan kemaksiatan, termasuk perzinaan, serasa tak terbayangkan betapa besarnya kerusakan ber-valentine ini. Hamper tidak ada yang namanya perzinaan melainkan terjadi dan dilakukan oleh mereka yang ber-valentine. Naudzu billahi mina zina.

Pada empat belas abad yang lalu atau lebih, sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Huroiroh radhiyallahu anhu, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Telah ditetapkan atas anak Adam (manusia) bagiannya dari zina, ia pasti mendapatinya, tak ada celah untuk menghindar darinya. Kedua mata berzina, zinanya adalah pandangan, dan kedua telinga pun berzina, zinanya adalah mendengar, dan lisan zinanya adalah pembicaraan, dan tangan zinanya adalah memegang, dan kaki zinanya adalah melangkah, dan hati (zinanya) adalah bernafsu dan berhasrat, dan kemaluan yang akan menetapkannya atau mendustakannya.”[i]

Coba bacalah fenomena ber-valentine yang ada, bukankah semua yang disebutkan oleh Rosululoh shallallahu ‘alaihi wasallam di atas benar-benar telah dilakukan?

1. Dosa zina pandangan mata

Jujur, rasanya tak satu pun dari berbagai bentuk zina di atas yang tidak dilakukan oleh mereka yang “menebar” kasih sayang di hari valentine. Berkasih sayang menurut mereka ialah berlezat-lezat memandangi orang yang dicinta. Padahal seperti ini haram dilakukan selain oleh pasangan yang telah sah menjadi suami-istri. Bila tidak demikian, itulah zina mata. Maka Alloh memerintahkan kepada kaum laki-laki yang beriman:
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.[ii]

Dan Alloh azza wajalla memerintahkan kepada kaum perempuan yang beriman:
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan dan kemaluannya.”[iii]

2. Dosa zina lisan dan pendengaran

Kemudian, menurut mereka menebar kasih sayang ialah dengan berlezat-lezat menikmati indahnya saling mengucapkan dan mendengarkan ungkapan cinta, kemesraan, dengan berbagai romantikanya. Padahal inilah sesungguhnya zinanya lisan dan zinanya pendengaran. Seperti ini haram dilakukan selain oleh pasangan yang telah sah menjadi suami-istri guna melanggengkan cinta dan kasih sayang di antara mereka berdua. Oleh karenanya, Alloh Ta’ala berfirman:
يَا نِسَاء النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاء إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفاً

Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain. Jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.[iv]

Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang memunculkan keberanian orang untuk bertindak yang tidak baik terhadap mereka, yaitu orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan wanita, seperti melakukan zina.

Apabila Alloh azza wajalla mengarahkan para istri Nabi agar tidak berbicara dengan suara dan pembicaraan yang menggoda dan memperdaya, maka tentunya umat ini, termasuk kita, lebih patut dengan arahan ini.

3. Dosa zina tangan dan kaki

Kemudian, menurut mereka menebar kasih sayang tak cukup dengan zina mata, zina lisan dan zina pendengaran saja. Namun mesti dengan zina tangan dan kaki. Jujur, tak ada dalam praktek menebar kasih sayang ala mereka melainkan disertai sentuhan, pegangan dan langkah kaki. Sesungguhnya tangan dan kaki pun berzina. Padahal sentuhan sewajarnya, termasuk jabat tangan, tak boleh dilakukan selain kepada mahromnya. Bagaimana bila sentuhan yang ada melebihi sentuhan yang wajar?! Tentu lebih sangat menjijikkan dan sangat besar akibat buruknya.

Jauh-jauh hari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang Rosul penebar kasih sayang, telah bersabda:
لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Sungguh, ditikamnya kepala salah seorang di antara kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada ia menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.”[v]

Seperti ini adalah bila yang terjadi adalah sekadar menyentuh. Lalu bagaimana apabila dilakukan sesuatu yang hanya halal dilakukan oleh seorang suami yang sah terhadap istrinya yang sah?! Sungguh tangan dan kaki pun berzina, dan menderita sakit sebab tikaman jarum besi di kepala lebih baik dari semuanya.

4. Dosa zina dengan terang-terangan

Bukan hal yang tersembunyi dan tak diketahui oleh khalayak umum, namun sebaliknya menebar kasih sayang ala mereka yang ber-valentine benar-benar ‘perzinaan’ terang-terangan dengan berbagai bentuk dan jenisnya. Di jalan-jalan umum, di mall-mall, di kafe-kafe, di tempat-tempat hiburan, di tempat-tempat rekreasi dan di mana-mana. Bahkan disiarkan dan di-ekspos oleh berbagai media. Maka, perhatikanlah sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengan ketegarannya senantiasa menebar kasih sayang.
كُلُّ أُمَّتِى مُعَافَاةٌ إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنَ الإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الْعَبْدُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ قَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ فَيَقُولُ يَا فُلاَنُ قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ فَيَبِيتُ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Setiap umatku dimaafkan (kesalahannya), kecuali orang yang terang-terangan (melakukan kemaksiatan). Dan sesungguhnya termasuk berterang-terangan ialah tatkala seseorang melakukan amalan (kemaksiatan) di waktu malam, kemudian di pagi harinya—padahal Alloh azza wajalla telah menutup rahasianya—dia mengatakan: ‘Wahai fulan, sungguh aku tadi malam telah berbuat begini dan begitu’. Padahal dia telah bermalam dan ditutupi rahasianya oleh Robbnya azza wajalla, namun kemudian dia singkap tutup Alloh itu darinya.”[vi]

Lalu apakah menebar kasih sayang itu artinya bersemangat bersama-sama berzina dengan berbagai bentuknya secara terang-terangan seperti ini?!

5. Dosa mendekati dan berbuat zina farji/kemaluan

Sesungguhnya Alloh subhanahu wata’ala melarang umat ini mendekati zina. Dia azza wajalla berfirman:
وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.[vii]

Imam Ibnu Katsir mengatakan: “Alloh subhanahu wata’ala berfirman dengan melarang hamba-Nya dari zina dan mendekatinya, yaitu melakukan sebab-sebab dan segala yang mengundang dilakukannya (zina).”[viii]

Kenyataan yang telah menjadi rahasia umum, mereka-mereka yang ber-valentine tak jarang yang sampai berzina farji, na’udzu billahi minaz-zina. Hal ini sesuai dengan asal-muasal peringatan valentine itu sendiri sebagai sebuah pesta wajib berpasang-pasangan untuk bersenang-senang semaunya.

Inilah sebagian dari dosa-dosa perzinaan dalam ber-valentine yang begitu nyata. Sehingga apakah ber-valentine maknanya menebar kasih sayang?! Ataukah justru menebar dosa dan kerusakan?! Hanya kepada Alloh azza wajalla semata kita adukan seluruh musibah yang menimpa umat ini.

Semoga yang sedikit ini menjadi pelajaran dan nasihat bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Wallohul musta’an.

[i] HSR. Muslim 6925

[ii] QS. an-Nur [24]: 30

[iii] QS. an-Nur [24]: 31

[iv] QS. al-Ahzab [33]: 32

[v] HR Thobroni dalam Mu’jam al-Kabir 16880, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohihul Jami’ 5045

[vi] HR. al-Bukhori 6069 dan Muslim 7676, dan ini lafazhnya.

[vii] QS. al-Isro’ [17]: 32

[viii] Lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, Ibnu Katsir, atas ayat 32 Surat al-Isro’.

Sumber: http://alghoyami.wordpress.com/

From → muslim.or.id

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: