Skip to content

Inilah Dosa-Dosa Ber-Valentine – Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami

13 Februari 2011

Oleh: Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami -hafizhahullah-

Tidaklah ada sebuah syariat yang diajarkan Islam yang berakibat keburukan. Dan terbukti bahwa seluruh apa yang disyariatkan Islam benar-benar membawa kebaikan dan mengantarkan umat yang ta’at menuju kepada keridhoan. Tatkala valentine’s day bukan dari dan untuk Islam, sudah tentu ia mengandung berbagai jenis kerusakan dan keburukan. Tentu di antaranya ialah membawa racun-racun dosa bagi siapa saja yang turut serta di dalamnya. Di antara dosa-dosa ber-valentine yang begitu nyata itu ialah:

Dosa Latah dan Ber-tasyabbuh

Di antara dosa-dosa ber-valentine ialah latah dan meniru serta ber-tasyabbuh. Meniru dan latah erat kaitannya dengan rasa kagum, pengagungan, serta kecintaan seseorang. Tidaklah seseorang meniru melainkan sebab kekagumannya, atau pengagungannya atau sebab kecintaannya. Jauh-jauh hari Islam telah mengingatkan umatnya agar berhati-hati dan waspada dari kebiasaan latah dan meniru-niru. Sebab salah melatah dan meniru akan berakibat kesalahan yang sungguh sangat berbahaya. Apabila yang ditiru ialah orang-orang yang sholih yang menjadi qudwah (teladan) umat maka keberuntungan. Namun apabila yang ditiru ialah kaum fasiq (suka berbuat dosa), kaum kafir, maka berarti musibah dan kemaksiatan.

Perhatikanlah sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam tentang perilaku apa yang kiranya akan dilakukan oleh umat ini. Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu menyebutkan bahwa Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَتَتْبَعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ » . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ »

“Sungguh kalian akan mengikuti (perlakuan) orang yang sebelum kalian, sejengkal sejengkal, dan sehasta demi sehasta, sehingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak sekalipun tentu kalian tetap mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa (kalau bukan mereka)?”[i]

Sungguh, sebagian besar umat ini telah mengikuti Yahudi dan Nasrani, bahkan mereka telah meniru dan semangat untuk bisa menjadi serupa atau sama dengan dua kaum tersebut. Padahal Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengancam dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa saja yang menyerupakan diri dengan suatu kaum maka ia termasuk dari kaum itu.”[ii]

Dosa Kagum dan Cinta Kaum Kafir

Bisa jadi karena kekaguman mereka meniru suatu kaum tersebut. Bisa juga karena pengagungan atau juga karena kecintaan. Alasan manapun yang mereka pegangi semuanya adalah kesalahan dan musibah.

Perhatikanlah apa yang dikisahkan oleh seorang sahabat yang mulia, Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Suatu saat dia pernah berkata: “Datanglah seorang laki-laki kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: “Wahai Rosululloh, kapan kiranya akan tegak hari kiamat?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa yang telah kau persiapkan untuk menyambut kiamat?” Dia menjawab: “Kupersiapkan kecintaanku kepada Alloh dan kepada Rosul-Nya”. Lalu beliau pun bersabda:
فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Sesungguhnya kau akan bersama siapa yang kau cinta.”

Kemudian Anas radhiyallahu anhu mengatakan: “Kami (para sahabat) tidaklah pernah merasa gembira setelah keislaman kami dengan kegembiraan sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya kau akan bersama siapa yang kau cinta”. Anas radhiyallahu anhu pun mengatakan, “Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap bisa bersama mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka”.[iii]

Bila seseorang akan dikumpulkan bersama siapa yang dipuja dan dicinta, maka bagaimana kiranya nasib orang-orang yang mencinta dan mengagungkan kaum fasik dan orang-orang kafir lagi durhaka? Musibah apa lagi kiranya yang lebih besar dari ini semua?

Dosa Menghamburkan Harta dan Ikut Perbuatan Setan

Tak sayang harta menjadi hal yang wajar bagi mereka yang ber-valentine. Dengan dalih menebarkan kasih sayang (menurut persangkaan mereka), mereka hamburkan harta. Inilah salah satu jalan setan yang mereka pilih dan mereka ikuti. Yaitu menyia-nyiakan harta dan dan membelanjakannya untuk kemaksiatan. Dan Alloh azza wajalla telah berfirman:

… dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Robbnya.[iv]

Dosa Pergaulan Bebas dan Perzinaan

Tak dipungkiri bahwa Islam adalah agama kasih sayang dan memerintahkan agar umatnya senantiasa berkasih sayang. Namun sesungguhnya kasih sayang dalam Islam ialah kasih sayang yang mulia, kasih sayang yang tulus dan tak kenal pamrih. Ialah kasih sayang yang penuh dengan aturan, adab dan tata krama syari’atnya yang agung. Bandingkan dengan kenyataan kaum yang menebarkan kasih sayang di hari valentine. Bukankah mereka telah banyak melanggar aturan Islam dalam berhubungan antara laki-laki dengan perempuan yang telah diatur dengan aturan yang indah dan luhur? Bukankah bervalentine semakna dengan berpesta pergaulan bebas antara laki-laki dengan perempuan tanpa aturan?

Allohumma, ya Alloh, ampunkan buat kami atas dosa dan kelemahan kami. Sungguh, menebar kasih sayang menurut mereka ialah pergaulan bebas tanpa aturan, pergaulan bebas tanpa tata krama. Berbaurnya laki-laki dengan kaum perempuan dan dilakukannya apa yang mereka hendak lakukan semaunya dan tanpa batasan. Berpasanag-pasangan dan bersepi-sepi, sembunyi dari pandangan mata manusia untuk bermaksiat kepada Dzat Yang tak kan tersembunyi perzinaan mereka bagi-Nya azza wajalla.

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Tidaklah seorang laki-laki bersepi-sepi berduaan dengan seorang perempuan (yang bukan istrinya) kecuali yang ketiganya ialah setan”[v]

Sehingga setanlah yang menghias dan mengarahkan semua pandangan mata, seluruh ucapan lisan, semua yang terdengar, seluruh sentuhan dan langkah langkah-langkah kaki mereka. Jadilah mereka diperbudak oleh setan setelah mereka diperbudak oleh nafsu.

Apakah bersama-sama melakukan perbuatan dosa seperti ini yang dinakaman berkasih sayang? Apakah bersama-sama memperturutkan nafsu lalu tunduk patuh diperbudak setan seperti ini yang namanya berkasih sayang?

Hanya kepada Alloh ta’ala kita adukan semua musibah yang menimpa sebagian besar umat ini. Semoga Alloh subhanahu wata’ala memelihara kita dan keluarga kita dari dosa-dosa dan kemaksiatan. Amin.

[i] HR. al-Bukhori 7320 dan Muslim 6952, dan ini lafazh al-Bukhori.

[ii] HR. Abu Dawud 4033, Ahmad 2/50 dan 92, dishohihkan oleh al-Albani v\ dalam Irwaul Gholil 1269

[iii] HR Muslim 6881

[iv] QS. al-Isro’ [17]: 26-27

[v] HR Tirmidzi, Ahmad, dan Hakim, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohihul Jami’ 2546

Sumber: http://alghoyami.wordpress.com/

From → muslim.or.id

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: